Marly Arifin

Wawancara kedua Tim Interveiw PPI bersama Marly Arifin, International Bisnis and Management Study, Hanze, 2004-2008.

STUDY

Marly mengambil study apa di Groningen?

International Bisnis and Management Study di Hanze. Disebut IBS aja, harusnya IBMS. Program ini setingkat bachelor (S1).

Apa yang dipelajari di bidang ini?

Studi ini fokusnya tentang bagaimana cara berbisnis di Eropa, sistem manajemen, accounting, finance dan pemasarannya. Saya mengambil finance. Sebenarnya awalnya saya ingin mengambil International Communication. Namun ada kesalahan informasi dari NEC, dikira program ini ada mulai bulan February, ternyata adanya hanya bulan September. Akhirnya saya mengambil IBMS dulu dan nanti bisa transfer ke komunikasi bisnis. Namun pada akhirnya kupikir-pikir IBMS lebih pas untuk kebutuhanku.

Buat mahasiswa dari Asia, apa keuntungan mengambil studi ini?

Keuntungannya kita tahu bagaimana berbisnis dengan Eropa. Misalnya dalam sebuah tugas proyek kita bekerja sama dengan mahasiswa dari negara-negara di Eropa. Dari meeting-meeting yang kita lakukan dan laporan yang harus dibuat bersama-sama, kita bisa tahu bagaimana orang Jerman, Belanda, dan lain-lain bekerja.

Dalam satu semester kita bisa bergabung dalam dua tim dengan komposisi yang berbeda. Bahkan di tahun kedua kita bisa punya empat tim dalam satu semester. Kadang-kadang ke kampus bukan untuk kuliah tetapi meeting.

Berat ndak sih bebannya?

Dalam satu periode (setengah semester) biasanya maksimum ada empat ulangan (ujian). Kalau ada kuliah yang gagal, kita bisa mengambil lagi ketika summer. Jadi bebannya cukup berat, karena disamping kuliah juga ada proyek.

Kuliahnya dalam bahasa Belanda atau …?

Oh tidak. Dalam bahasa Inggris. Tapi selama 2 tahun pertama di IBS, saya dapet mata pelajaran bahasa belanda dan saya sempat belajar Bahasa Belanda tiga bulan di Erasmus Jakarta sebelum berangkat.

Dulu SMA-nya dimana?

SMA Jubilee Sunter Jakarta. Tarafnya internasional, jadi 70 persen pake bahasa Inggris, 30 persen bahasa Indonesia. Dan salah seorang gurunya adalah Kartika Yulianti.

Kartika teman kita itu?

Iya. Saya dulu diajar sama beliau. Kebetulan saya angkatan pertama di SMA itu.

Mulai kuliah di Groningen kapan?

Februari 2004. Ini karena IBS punya dua periode penerimaan, Februari dan September. Seharusnya saya masuk September 2003 tetapi karena sesuatu hal saya terlambat berangkat.

Bagaimana studinya, apakah pake ngulang segala?

Tahun ini alhamdulillah tidak. Tapi pola belajarnya yang berbeda banget dengan waktu di Jakarta. Dulu bisa lah pake cara SKS (sistem kebut semalam). Kalau di sini tidak mungkin. Materinya terlalu banyak untuk dibaca semalam. Pernah saya coba sekali pas awal-awal. Waktu itu akan ujian marketting. Karena tidak ada waktu, akhirnya pake SKS. Lulus sih lulus, tetapi setelah itu sakit selama tiga hari.

Setelah selesai bachelor apa rencana Marly? Apakah ingin membuat perusahaan di Indonesia?

Mungkin belum. Yang pasti ingin coba kerja dan mungkin nanti kepengennya punya usaha sendiri atau melanjutkan studi (master).

COFFEE HOUSE

Bisa diceritakan project yang paling menarik?

Namanya bisnis plan, kuliah pertama di tahun pertama. Satu group lima orang. Dipecat satu jadi tinggal empat.

Orang Belanda ya..?

Iya, orang Belanda. Kita berhak memecat jika kerjanya memang tidak bener. Anggota tim kita dari Belanda, Indonesia, China, dan Portugis.

Tugasnya apa waktu itu?

Kita diminta membuat bisnis di Belanda. Biasa saja, tetapi kita lihat dari sisi manajemen, legal aspek, marketting, dan finansialnya. Waktu itu saya kebagian manajemen.

Kita berencana membuat Coffee House. Beruntung temen kita ada dua orang Belanda sehingga kita bisa mendapat sebuah tempat di Centrum. Menariknya, walaupun kita sudah mendapat lokasi, kita musti tanya ke Gementee, di jalan tertentu itu sudah ada berapa coffee house, berapa maksimal diperbolehkan, dan apakah kita masih diijinkan. Misal kalau di jalan X itu maksimal ada enam dan kita orang ketuju yang mau membuat, maka kita tidak akan diijinkan. Waktu itu kita beruntung masih boleh.

Di jalan apa waktu itu mau dibuat?

Jalannya apa ya.. saya lupa. Tapi kira-kira di jalan terusan Rademarkt ke arah Grotemarkt. Maksimum di situ boleh lima horeca (cafe).

Terus?

Kita musti ke pemerintah untuk mendapatkan data. Untuk itu kita harus mengajukan blue print (rencana), meskipun ini hanya untuk latihan. Mereka mau membantu dan memberikan informasi yang kita butuhkan. Selain itu kita juga tanya ke salah satu pemilik cafe di situ yang memiliki dua pekerja. Kita ingin tahu bagaimana awal mula dia mendirikan cafe. Dia baik sekali, mau menceritakan pengalamannya.

Lucunya, waktu kita presentasikan hasilnya, guru menajemen tanya, “Apa yang akan kamu lakukan jika terjadi kebakaran? Apa tindakan kalian jika ada pelanggan yang sakit jantung?” Kan itu tidak dibahas sebelumnya. Hahaha… Jika kita jawab saja bahwa kita akan training staf bagaimana menghadapi itu semua pada sesi training hahaha.. Tapi dia juga tanya legal aspeknya dan lain-lain.

MEETING YANG EFISIEN

Bagaimana pengalaman kerja dengan orang dari negara lain?

Beberapa kali kerja dengan orang Belanda, umumnya mereka mau opininya didenger (walau kadang-kadang kosong hahaha), suka memaksakan pedapat, menyalahkan orang tetapi tidak mau disalahkan. Misalnya kalau kita telat mereka ngomel-ngomel, tapi giliran mereka telat tidak mau disalahkan. Selalu bikin alasan. Intinya tidak bisa deh menyalahkan mereka kalau pun salah.

Kalau orang Jerman, mereka lebih ke perfectionist. Kalau perlu titik koma pun dibahas hahaha… Kalau Eropa bagian Portugis, mereka sama seperti kita, lebih cuek, seneng ngobrol dan adaptasi.

Bagaimana pengalaman dalam mencapai target bersama?

Waktu awal-awal kerja bareng, kita belum tahu bagaimana cara menggabungkan ide. Akibatnya, meeting berjam-jam tidak menghasilkan apa-apa. Namun setelah dua atau tiga kali, kita sudah tahu bagaimana bekerja yang efektif dan efisien. Meeting singkat pun bisa mendapat hasil yang lumayan. Menurut saya, efesien meeting sebuah group itu maksimum dilakukan dalam satu jam. Lebih dari itu biasanya tidak efektif. Banyak hal-hal yang tidak perlu ikut dibicarakan. Lima belas menit sebenarnya juga sudah cukup, asal masing-masing bekerja secara efisien. Biasanya untuk bagi-bagi tugas, setelah itu pulang dengan bagiannya masing-masing.

Ini menarik sekali. Bisa diceritakan bagaimana meeting yang efisien itu?

Tahap awal kita harus saling mengenal anggota tim. Semacam warming-up. Tentu kita belum bisa benar-benar mengenal kualitas mereka. Selanjutnya, kita lempar sebuah topik. Di sini setiap anggota dimintai pendapatnya. Kita berusaha fokus pada topik yang dibicarakan. Kemudian kita bagi-bagi tugas dimana masing-masing anggota harus fokus pada sub topik tertentu. Jika semua sudah jelas berbicara, biasanya tidak akan efektif jika meeting diteruskan. Lebih baik pulang mengerjakan tugas yang telah ditetapkan dan kembali di lain waktu dengan hasil masing-masing. Saat itu kita akan mendapat tambahan ide. Misalnya ketika kita membahas soal kaca mata. Jika kita tidak tahu apa-apa tentang kaca mata ini, lebih baik masing-masing pulang untuk mencari informasi tentang kaca mata dulu dan kembali di lain waktu.

Bagaimana tidak efisiennya meeting yang pertama?

Waktu itu kita belum tahu cara menggabungkan ide dan kerja, jadinya hanya beberapa orang yang kebetulan bisa bekerja efektif. Misalnya untuk tugas membuat surat, ada dua orang yang pada saat meeting itu idenya benar-benar bagus dan bisa bekerja. Yang lain tidak mengerti. Karena merasa sebagai satu tim, tidak enak kalau ditinggal pulang, akhirnya yang lain hanya duduk-duduk saja menunggu yang dua orang itu bekerja.

Jika untuk membuat surat sebenarnya cukup dua orang saja, bagaimana kita bisa membuat kerja dari empat orang itu lebih efektif dan memberi hasil yang lebih bagus?

Kan setiap orang punya ide. Idenya biasanya berbeda-beda. Dan ide yang seperti ini yang akan memperkaya hasil akhir. Misalnya kalau hanya dua dari empat anggota saja yang bikin surat. Jika ada pendapat yang berbeda dari anggota lain, yang terjadi mereka bisa mengubah lagi isi suratnya mengikuti usulan salah satunya. Sedangkan jika dikerjakan oleh empat orang, kita bisa mengumpulkan ide dari masing-masing orang tentang topik surat tersebut. Kemudian, kita lihat masing-masing ide itu bagus untuk bagian mana. Lalu kita gabungkan ide-ide tersebut untuk menghasilkan sebuah surat yang bagus. Dengan begitu semua orang akan mikir dan aktif. Semua mendapat pengalaman bagaimana membuat surat. Lebih baik kan dibandig dengan hanya menunggu dua orang bekerja.

Anak profesor saya pernah bilang kalau orang asia merasa sulit bekerja sama, tetapi merasa jago kalau kerja sendirian. Bisa dijelaskan?

Yang kulihat begini, orang asia kurang pandai menyampaikan pendapat. Akibatnya yang tampak adalah orang Eropa sebagai pemikir (karena pinter menjelaskan pendapatnya) dan orang Asia sebagai pekerja. Saya pernah punya pengalaman bekerja dalam sebuah tim enam orang. Anggotanya satu orang Indonesia dan sisanya dari negara lain di Asia. Disitu kelihatan tidak ada pemikir. Saya kira mereka sama seperti orang Indonesia yang mudah berdaptasi dengan cara bekerja orang Eropa. Padahal mereka sama seperti saya pernah bekerja dalam satu tim dengan orang Eropa. Namun ketika sebuah masalah di lempar ke meja dan masing-masing dimintai pendapatnya, tak satu pun yang bersuara. Mereka tidak biasa berdiskusi, sehingga lebih senang membawa masalah itu pulang dan mengerjakannya di rumah. Mereka lebih senang bekerja sendiri. Hasilnya sih bagus, memang bagus, tetapi sayang idenya tidak bisa dikeluarkan langsung ditempat.

Bagaimana komposisi mahasiswa di kelasmu?

Waktu awal masuk, saya yang dari Indonesia sendiri. Dari Asia total ada enam, dan sisanya kebanyakan dari Belanda. Pada saat exchange di tahun ketiga kita baru kedatangan mahasiswa dari negara lain. Saya exchange di Belanda saja hahahaa.. Sebenarnya saya bisa ke negara lain, tapi repot untuk pindah-pindah.

TINGGAL DI BELANDA

Bagaimana kesan tinggal di Belanda?

Tinggal di Belanda sih enak. Saya lebih suka di Belanda untuk belajar. Kalau untuk tinggal lebih lama atau bekerja belum ada keinginan. Dulu saya pernah berlibur ke Belanda sebentar. Saya terkesan dengan sepeda dan jalur sepeda di sini.

Di luar kuliah apakah punya teman-teman dekat dari Belanda?

Karena weekend saya kerja, jadinya kalau ketemu mereka hanya pas kuliah saja. Dan temen deket kebanyakan dari Indonesia juga.

BEKERJA

Bagaimana Marly bisa dapat pekerjaan?

Untuk bekerja di luar, mungkin saya termasuk orang yang beruntung. Peluangnya sangat terbatas. Dan menurut saya, akan lebih mudah lagi untuk mendapatkannya kalau kita memiliki koneksi.

Bisa diceritakan?

Sebelumnya saya belum berniat bekerja. Namun setelah pulang ke Indonesia muncul keinginan untuk bekerja setelah kembali ke sini. Awalnya di situ (hotel) ada Samuel Moeloek. Dan saya juga sudah dengar dia bekerja di situ. Saya diperkenalkan ke manajer hotel. Kebetulan, manajer ini orangnya baik sekali (sekarang manajemennya sudah ganti, tampaknya lebih sulit). Dia langsung bilang agar saya training hari Jum’at untuk jadi house keeping. Saya datang hari itu dan langsung diterima bekerja.

Bagaimana apakah capek kerja di Belanda?

Capek, pokoknya capek. Apalagi kalau harus mengangkat kasur air. Beratnya minta ampun. Jadi peringatan ya buat para cowok, jangan pernah membelikan istrinya kasur air. Repot ngurusnya.

Berapa jam bekerja setiap minggu?

Hari Jum’at mulainya jam 10, dan kalau cepet bisa selesai jam 2. Tapi tergantung juga berapa banyak tamu dan berapa kamar yang diserahkan ke kita. Hitungannya kamar, bukan waktu.

Setahu Marly siapa saja mahasiswa Indonesia di Groningen yang bekerja?

Selain saya dan Samuel, dulu Sandra juga bekerja di Warung Bali.

Bisa diceritakan tentang orangtua Marly?

Ayahku (Lendi Arifin) bekerja di GO (Government Organization), yaitu sebagai sekjen Kerukunan Usaha Kecil Menengah. Tugasnya membina UKM di daerah-daerah. Ibuku (Veronica Istamto) bekerja di rumah.

Dari ayahmu mungkin Marly tahu permasalahan yg dihadapai UKM kita?

Sebenarnya mereka memiliki banyak ide, namun sarana dan prasarana dari pemerintah yang kurang. Misalnya untuk eksport ke luar negeri mereka harus mencari kontak sendiri. Bantuan ada tapi kurang. Misalnya KUKM bisa menyediakan lahan untuk pengerajin rotan, namun untuk menjual tidak bisa. Kan kasihan juga para pengerajin itu, harus berjuang sendiri.

PPI

Bagaimana pendapat Marly terhadap PPI?

Adanya PPI ini sangat membantu. Di PPI kita bisa bertemu dengan teman-teman, ada Groenscup untuk kebersamaan, ada acara yang dibikin bareng. Asyik. Dan saranku, manfaatkan saat-saat masih di sini. Nanti di Indonesia kita tidak bisa lagi bersama-sama seperti ini.

Bagaimana keterlibatan Marly di PPI?

Saya tidak pernah jadi pengurus. Hanya jadi orang yang membantu saja. Pertama kali datang saya membantu Groenscup jadi seksi acara bareng Wangsa. Sebenarnya saya tidak pernah tahu PPI, tapi tiba-tiba namaku ada di salah satu seksi Groenscup. Kemudian Atjeh Night. Itu juga sama, tiba-tiba namaku ada di antara panitia. Abis itu Groenscup lagi. Dan sekarang lagi-lagi Groenscup. Namun kali ini jadi seksi lapangan yang mengurus pertandingan bareng Tondy.

Kesan selama kerja bareng temen-temen PPI?

Kerja bareng sama PPI enak, dan kita bisa mengenal karakter banyak orang. Ada yang menyebalkan sih iya, tetapi semakin kita bekerja di dalam lingkungan yang lebih luas, semakin kita tahu bagaimana menghadapi orang yang macam-macam itu. Yang penting hubungan baik.

Untuk PPI sekarang apa yang menurut Marly masih kurang?

Mungkin karena kurang acara bareng untuk semuanya, jadinya terkesan sendiri-sendiri. Semoga nanti pas Groenscup kita bisa merasa bareng lagi. Dengan meeting untuk acara tertentu, yang tadinya tidak deket kita bisa jadi deket.

Pendapat Marly tentang tim pengurus PPI sekarang?

Kelihatan kerja kerasnya. Mengurus PPI itu kan pekerjaan sosial. Jadi kita berterimakasih sekali jika ada yang mau bekerja sosial untuk kita mahasiswa Indonesia di Groningen. Dari foto-foto yang dikirim dan situs yang lagi dibuat, kelihatan mereka ingin menjadikan PPI sebagai wadah kebersamaan. Semua ini makan waktu di antara tugas-tugas yang padat.

Tim wawancara:
if (editor), pw, za, mr (fotografer).

Share this:

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*