For your own good: Ulasan film Singapura “I not stupid”

Film ini bercerita tentang tiga anak berumur sekitar 10 tahun dalam sebuah sekolah single-sex di Singapura. Ceritanya dikemas dengan cerdas: alurnya logis dan kocak, pesannya padat dan bermutu. Ga heran dia bisa menang beberapa kategori dalam Festival Film Internasional. Berikut ini komentar saya terhadap film “I not stupid”. Silakan ditambahkan atau dikurangi kalau ada yang punya pendapat lain ya.

Setiap anak unik karena setiap keluarga juga unik
Tiga sahabat yang jadi tokoh film tersebut punya karakter yang unik, sangat erat kaitannya dengan latar belakang keluarganya. Boon Hock yang bukan hanya paling “pintar” tapi juga cool datang dari keluarga sederhana yang jualan makanan. Sehari-harinya dia dibiasakan bekerja di warung orang tuanya dan mengasuh adiknya. Walhasil, sifatnya juga satria (ga bergitar) dan cerdas secara intelektual dan emosi (angkanya 92/100). Terry datang dari keluarga super kaya, kecerdasan intelektualnya rata-rata (65/100). Terry adalah sosok anak yang super patuh dan selalu dikuliahi ibunya untuk tidak ikut campur .. “it’s not your business”. Walhasil, menjelmalah Terry menjadi anak pengecut dan cengeng. Kok Pin, dialah yang “stupid” dalam ukuran mainstream pendidikan Singapura. Angkanya yang selalu rendah bikin ibunya merasa tergelitik untuk ikut saran teman sekantornya: “rotan bisa mendongkrak kemampuan anak2”. Begitulah, Kok Pien akhirnya harus dipecut ibunya, itupun tetap tidak membantunya (nilainya 51/100). Ini karena bakat Kok Pien bukan pada ilmu mainstream (Bahasa Inggeris, Matematika, Science) tetapi justru karena bakatnya sebenarnya pada bidang seni yaitu melukis. Keluarga Kok Pien adalah middle class Singapura yang harus berjuang untuk tetap berada di wilayah middle class yang penuh persaingan. Kok Pien sendiri begitu stress dengan nilainya sehingga sempat berniat bunuh diri.

Pergulatan sosial: quo vadis Singapura
Dalam skala mikro, film “I not stupid” menceritakan pro dan kontra masalah pendidikan di Singapura: bagaimana mengakomodasi anak-anak “bodoh” dalam mainstream yang super kompetitif itu. Namun, secara makro film ini juga bercerita tetang pergulatan sosial masyarakat Singapura yang bingung apakah harus kembali ke nilai-nilai Asia (baca: China) atau sepenuhnya berkiprah ke Kaukasia untuk memenangkan persaingan pasar. Di satu pihak, produk harus mendunia (berarti perusahaan harus berorientasi internasional), di lain pihak kadang-kadang mendunia bisa berarti sangat konyol. Ini digambarkan secara ekstrim tapi kocak bagaimana penasihat bisnis (orang Kaukasia) tidak mengerti budaya Asia: mau launching produk di saat tahun baru China kok pakai kemasan warna hitam.

Pendidikan di Indonesia vs. Pengajaran di Singapura
Secara umum ada 3 hal yang sangat berbeda antara pendidikan di Singapura dan di Indonesia. Pertama, dari sisi konsep. Singapura, nampaknya, menganut konsep Barat yang hanya mengajarkan Bahasa Inggeris, Matematika dan Science. Matematika adalah ibu segala ilmu pengetahuan dan alat untuk membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan. Bahasa juga penting karena ilmu pengetahuan harus bisa disampaikan dengan bahasa yang efisien dan efektif. Dengan kata lain, basis logika berpikir Science adalah Bahasa dan Matematika. Indonesia, di lain pihak, lebih ambisius. Dalam konsep pendidikan Indonesia manusia seutuhnya adalah dia yang mumpuni bukan hanya jasmani tetapi juga rohani, lahir maupun bathin. Karenanya anak didik harus dibekali ilmu tentang Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Kewiraan, Sejarah dan teman-temannya. Dan hasilnya, ehm ehm!

Kedua, banyak tapi dangkal vs. sedikit tapi dalam (sumur kali!). Implikasi butir pertama: pendidikan ala Singapura lebih terspesialisasi sementara pendidikan ala Indonesia lebih terdiversifikasi. Kata Randy perbandingannya adalah nampan yang besar tapi datar vs. teko yang sempit tapi dalam. Nampaknya, manusia yang bisa semua secara menyeluruh dan mendalam sulit sekali didapat. Alternatif “second-best” justru spesialisasi. Sebaliknya spesialisasinya orang Indonesia: umum (kata Harry!). Ibaratnya obat, kayak mengkudu yang bisa mengobati 1000 penyakit. Sepertinya, dunia modern saat ini tidak muluk-muluk menuntut orang untuk tau semua (tapi kulit-kulitnya aja), tetapi justru profesional di bidangnya saja. Untuk bisa bersaing, seseorang justru harus pakar (dan betul-betul pakar) di satu bidang saja. Nah, kalau bidang itu demandnya minim, gimana? Apa harus jadi supir taxi atau narik ojek?

Ketiga, pengelompokan anak didik. Mengelompokkan anak didik berdasarkan kemampuan akademiknya semata terjadi sangat dini di Singapura (kelas 4 SD). Di Indonesia, anak-anak baru dikelompokkan jadi IPA, IPS, Bahasa baru di SMA (tolong dikoreksi kalau sudah ada perubahan). Selain itu, bukan hanya kemampuan tapi minat juga jadi bahan pertimbangan di Indonesia. Kalau betul-betul berminat, anak yang pintar boleh saja masuk jurusan IPS atau Bahasa yang “terstigma” sebagai jurusan pembuangan. Menurut mbak Ike, pengelompokan ini tidak dapat dihindari. Juga, tujuannya justru untuk kebaikan anak didik, yaitu memberi “perlakuan berbeda” (baca: treatment) pada anak didik yang kemampuannya berbeda. Namun, sangat sering pengelompokkan ini justru dianggap sebagai stigma yang bikin stres anak-anak dan orang tuanya. Anak yang pintar sih ga masalah, tapi bagaimana dengan yang “kurang pintar”? Haruskah mereka tersingkir dan menderita seumur hidupnya? Kata Angie, siapa kamu dan bagaimana hidupmu di Singapura ditentukan pada usia kelas 4 SD ketika kamu dikelompokkan jadi EM1, EM2, EM3? Apa ga terlalu muda?

Begitulah rangkuman film berikut diskusinya. Filmnya kocak, di sana sini selalu ada tawa penonton. Ketawa paling panjang adalah ketika diantara bahasa Mandarin (atau Kanton?) dan bahasa Inggeris, tiba-tiba ada yang nyeletuk bahasa Indonesia. Dialah ayahnya Terry yang menguruh pembantu rumah tangganya mengurus anak-anak … hehehe. Pahlawan devisa, maju terus pantang mundur!

Akhir ceritanya, ketiga anak tersebut secara tulus mengakui bahwa orang tua mereka – dengan segenap kekurangan – tidak mengingkan apa-apa selain kebaikan bagi anak-anaknya. Orang tua memang menuntut ini dan itu, tapi itu bukan apa-apa kecuali “for your own good”.

Salam,
mia, ibu rumah tangga

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*