Sejarah PPI Groningen

Tulisan ini sebenarnya cerita lama dan sudah ditulis beberapa tahun lalu. Cuma sayangnya pada waktu itu masih dalam bentuk draft, sehingga kami kurang percaya diri untuk mengedarkannya kepada pihak-pihak di luar pengurus PPI Groningen pada saat itu. Tahun berganti dan waktu berjalan terus, draft dokumen ini tidak terpegang karena berbagai alasan kesibukan mahasiswa tingkat akhir. Semangat perapihan draft ini tersentuh kembali karena beberapa kali mendapat pertanyaan “bagaimana sejarah berdirinya PPI di Groningen?” terutama dari para pengurus baru. Terdorong oleh pertanyaan seperti itu dan juga niat dokumentasi organisasi, maka kami mencoba melakukan revisi atas draft tulisan sejarah ini menjadi sebuah tulisan yang mungkin dapat lebih mudah dibaca.

Tulisan ini hanya merangkum perkembangan PPI Groningen sejak awal berdirinya tahun 1998 sampai dengan terbentuknya pengurus periode 2001-2002. Semua ini berdasarkan arsip penulis pribadi yang tercatat dari pengalaman dan pengamatan pribadi sebagai salah satu mantan pengurus PPI Groningen. Mohon maaf jika ada kekurangan atau kesalahan pencatatan. Semoga bermanfaat.

Brisbane , 7 June 2007

Salut Muhidin

1998: Kisah Awal

PPI Groningen secara resmi berdiri pada tanggal 10 Juni 1998. Namun demikian, diskusi tentang ide pembentukan organisasi ini sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya oleh 6 orang mahasiswa Indonesia yang saat itu belajar di Royal Universitas Groningen (RuG). Lima orang dari mereka adalah mahasiswa program LLM periode 1997-1998: Freddy Harris, Safri Nugraha, Moh. Novrizal, Ibrahim dan Dina Diana, sementara seorang lainnya berasal dari program Ph.D Demografi 1998-2002 (Salut Muhidin).

Ide pembentukan PPI Groningen ini terutama didorong oleh adanya kebutuhan pentingnya memiliki sebuah ORGANISASI resmi mahasiswa Indonesia yang berada di Groningen. Pada saat itu, sebagai mahasiswa pendatang setiap orang dari kami beberapa kali mendapat undangan untuk mengatasnamakan diri sebagai duta bangsa Indonesia (kalau pertemuan itu sebagai internasional students) atau sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia dari Groningen (biasanya kalau mendapat undangan dari pihak KBRI di Den Haag). Karena sifat perwakilan tersebut masih atas nama pribadi, bukan kolektif sebagai kumpulan mahasiswa Indonesia di Groningen, seringkali diantara kami tidak memiliki informasi yang seragam. Selain itu, tentu saja pendanaan atas transportasi atau akomodasi menjadi tanggung jawab masing-masing, padahal sebagai mahasiswa seringkali dana menipis apalagi menjelang krisis moneter.

Setelah beberapa kali bertemu dengan teman-teman mahasiswa Indonesia di kota lain, yang memang sudah memiliki PPI (contohnya PPI Enschede dan PPI Leiden), juga dukungan dari pihak KBRI terutama dari Bapak Dr. Andi Lolo (Atase Pendidikan KBRI pada saat itu) serta konsultasi dengan Ibu Madeleine Gardeur (Kabiro Hubungan Luar Negeri dari pihak RuG), kami sepakat untuk mendirikan PPI di kota Groningen. Beberapa pertemuan kami lakukan untuk pematangan konsep dan penyusunan program kerja. Pada bulan Juni 1998, secara resmi PPI Groningen dibentuk dengan susunan pengurus sbb:

Ketua Umum: Freddy Harris (LLM program)
Wakil Ketua: Salut Muhidin (Ph.D Demography)
Sekretaris: Dina Diana (LLM program)
Bendahara: Safri Nugraha (LLM program)

Setelah berdirinya PPI Groningen, satu pertanyaan besar kami sebagai pengurus pada saat itu adalah apakah mahasiswa Indonesia di Groningen hanya kami ber-6 saja? Berdasarkan informasi dari pihak RuG dan juga perkenalan di luar kampus RuG, beberapa waktu belakangan kami tahu bahwa jumlah pelajar Indonesia yang berada di Groningen pada saat itu sebenarnya sudah lumayan banyak, sekitar 15 orang. Ada 2 mahasiwa program MSc International Business (MSc.IB) dan juga beberapa pelajar pada Undergraduate program di Hanzehoogeschool. Maki Avianto (salah satu pelajar dari Hanze) mengatakan bahwa sebagian besar mereka yg belajar di Hanze adalah pindahan dari kampus di luar Belanda (seperti Australia, Singapore, USA dll). Mereka datang kesini terutama setelah terjadi krisis moneter 1997 yang menyebabkan nilai tukar rupiah menjadi jatuh. Pada saat bersaaan, negeri Belanda dijadikan alternatif karena menawarkan biaya pendidikan dan biaya hidup yang relatif tidak terlalu mahal (pada saat itu lho).

Pada periode awal tersebut, dengan masih sedikitnya jumlah mahasiswa Indonesia di Groningen, program kegiatan PPI (seperti pertemuan, olah raga atau kegiatan sosial termasuk jalan-jalan bareng) lebih terasa seperti kegiatan informal, maunya serius tapi tetap santai begitu. Satu perbedaan mendasar sebelum dan sesudah adanya organisasi PPI adalah kegiatan kami saat itu sudah mengatas namakan kelompok mahasiswa Indonesia di Groningen, sehingga pendanaan kegiatan dengan mudah mendapat bantuan dari pihak RuG ataupun KBRI. Selain itu, PPI Groningen juga telah beberapa kali berhasil menyampaikan ide pemikiran kepada pihak Universitas dan KBRI. Salah satunya adalah ide permohonan bantuan keringanan atas Tuition Fee bagi mereka yang swadana atau tidak memiliki beasiswa sementara terjadi krisis moneter di Indonesia.

Sejak pendiriannya, PPI Groningen telah diakui keberadaannya oleh banyak pihak terutama setelah pengurus memberikan a booklet of PPI’s profile sebagai opaya untuk perkenalan organisasi, terutama kepada RuG dan Hanzehoogeschool, KBRI, dan PPI-Belanda. Berikut kutipan profile yang tertulis:

————– Beginning the Profile PPI-Groningen 1998

Introduction

Since 1998, the number of Indonesian students in Groningen has increased dramatically. With only a few students in 1996, it is estimated that the total amount of students in the academic year of 2001-2002 reaches approximately around 100. These students are mainly studying in Rijkuniversiteit van Groningen and Hanzehogeschool van Groningen in various disciplines.

As this figure is expected to experience a continued increase each year, the awareness to form a student organization started to flourish. Contrary with the aim of studying abroad, it is still considered necessary to promote the mutual sense of belonging. From then on, an organization is deemed necessary to assist Indonesian students in adapting to he new surrounding and different study environment.

Based on these facts, the few Indonesian pioneers in Groningen established a formal organization by the name of Persatuan Pelajar Indonesia Groningen (PPI Groningen) in June 1998 to unite the Indonesian students in town. In other words, this organization could be used as a medium to communicate activities internally among the students and externally with any other organizations or institutions.

In addition to supporting present students, this organization also aims, in the long run, to provide future students of Groningen with useful experiences of past students.

Aim and Objectives

As briefly mentioned earlier, PPI Groningen was established to achieve several objectives. In general, we have defined them in two main groups, one is intended within the organization and the other within Groningen community.

Internal goals

Since its establishment in 1998, the PPI Groningen has always organized an annual PPI gathering as a means of gathering between the old students and new ones. Through this event, the students would have the opportunity to share their experiences and establish closer relations with each other. It is expected as well that the relationship between Indonesian students in Groningen will be strengthened as one big family. In addition to this, the organization also aims to train the members in organizations by providing related experiences.

External goals

Within the Groningen community, our organization plans to strengthen the bond with local people. The committee of PPI Groningen would like to enlarge our relationship with Indonesian students in the Netherlands to create further relationship and organize some events and cooperation in the future to expand the functional of the organization for the upcoming students in the next couple of years.

————– End Profile PPI-Groningen 1998

Pada bulan September 1998, kepengurusan PPI Groningen mengalami pembaharuan susunan pengurus. Hal ini terutama dilakukan karena sebagian besar pengurus inti (terutama ketuanya Freddy Harris, LLM) sudah harus mengakhiri masa studi. Pada waktu yg bersamaan, Groningen mendapat tambahan mahasiswa Indonesia yang baru saja memulai program belajarnya, diantara mereka ada yg mengambil program LLM, MSc.IB, dan Hanzehoogeschool. Dengan kata lain, jumlah pelajar Indonesia di Groningen semakin lama semakin bertambah banyak, terutama setelah adanya penandatanganan kerjasama antara pihak RuG dengan beberapa universitas di Indonesia (sumber percakapan dengan Ibu Madeleine Gardeur).

Sejak September 1998, terpilihlah kepengurusan baru PPI Groningen untuk periode 1998-1999 dengan susunan sebagai berikut:

Ketua : Salut Muhidin (Ph.D Demography)
Sekretaris: Ria Pertiwi (LLM Program)
Bendahara: Ayu Wayhuningsih (MSc.IB RuG)
Olah Raga: Banar Yuniarta (MSc.IB RuG)

1999-2000: Periode Transisi

Sampai dengan akhir tahun 1999, jumlah anggota PPI Groningen sudah mencapai angka 32 orang pelajar. Jumlah ini jauh lebih banyak dari masa sebelumnya, terutama setelah adanya kerjasama RuG dengan universitas di Indonesia. Jumlah pelajar terbanyak berasal dari program MSc.IB, atas kerjasama dengan MM-UGM untuk program Dual Degree, dan juga dari program LLM. Analisa lain menunjukkan bahwa adanya korelasi positif antara semakin banyaknya pelajar Indonesia ke Belanda akibat krisis moneter di tanah air dan gencarnya promosi program internasional (berbahasa Inggris) di Belanda.

Secara umum dapat dikatakan bahwa program kerja PPI Groningen pada periode itu hampir sama dengan program kerja dari pengurus sebelumnya. Ada kegiatan pertemuan, olah raga, kegiatan sosial termasuk jalan-jalan, pengiriman wakil-wakil untuk undangan pertemuan atau kesertaan dalam rangka sebuah event nasional/internasional (eg: perayaan hari kemerdekaan 17-Agustus dll.). Aktifnya PPI Groningen dalam kegiatan-kegiatan tersebut sempat membuahkan hasil terutama pada acara perayaan 17-Agustus 1999. Anggota PPI Groningen meraih juara pada banyak kegiatan termasuk dari Badminton dan Tennis. PPI Groningen juga menjuarai lomba karya ilmiah yang diselenggarakan oleh KBRI. Dengan kata lain, keberadaan PPI Groningen semakin luas dikenal oleh sesame teman-teman mahasiswa Indonesia di Belanda.

Peran PPI Groningen juga mendapat tempat khusus bagi pihak RuG. Dalam satu kesempatan penyambutan mahasiswa baru yang berasal dari Indonesia, pihak RuG secara tegas menyatakan bahwa PPI Groningen adalah partner universitas. Sejak saat itu, dengan anggapan kesamaan culture dan latarbelakang, PPI Groningen dijadikan rujukan oleh RuG bagi para mahasiswa Indonesia baru untuk mengenal kota Groningen dan RuG secara lebih detail dari sudut pandang seorang Indonesia.

Kepengurusan periode 1998-1999 berakhir pada bulan November 1999. Satu kelemahan utama PPI Groningen selama periode itu adalah tidak banyaknya melibatkan pelajar dari Hanzehoogeschool. Kegiatan dan perwakilan anggota pada banyak kegiatan lebih didominasi oleh mahasiswa RuG. Hal itu dapat dimungkinkan karena proporsi jumlah anggota lebih banyak berasal dari mahasiswa RuG. Selain itu, faktor perbedaan umur sepertinya berpengaruh pula terhadap kecilnya partisipasi teman-teman palajar Hanzehoogeschool.

Dengan pertimbangan untuk perbaikan organisasi dan mengaktifkan partisipasi teman-teman dari Hanzehoogeschool, pada bulan November 1999 dilakukan pemilihan pengurus baru PPI Groningen periode 1999-2000 yang melibatkan mahasiswa Hanzehoogeschool. Antusias dari teman-teman Hanze ternyata sangat besar, dan secara aklamasi terpilihlah Maki Avianto dari Hanze sebagai ketuanya. Selain itu pula, hampir sebagian besar mahasiswa Hanze terlibat dalam susunan pengurus inti PPI Groningen periode 1999-2000.

Note : Mohon catatan berikut dikonfirmasi dengan sdr. Maki Avianto

Sejak Desember 1999, penulis mulai banyak terbebani dengan urusan akademis. Keterlibatan penulis pada kegiatan PPI Groningen berkurang drastis. Selama periode 2000, penulis tidak banyak mengetahui secara detail kegiatan resmi PPI Groningen. Penulis ingat bahwa pengurus PPI Groningen pernah mengadakan acara pemilihan pengurus baru untuk periode 2000-2001 pada tgl 26 November 2000. Acara itu kebetulan bersamaan dengan malam pertama datangnya Ramadhan. Seingat penulis juga, susunan pengurus PPI tidak berubah, Maki Avianto tetap menjadi ketua dan terus berlangsung sampai bulan Oktober 2001.

Berdasarkan pengamatan penulis, beberapa kegiatan rutin masih tetap berjalan pada masa itu, termasuk kegiatan yg pernah dilakukan PPI Groningen dan RuG pada masa sebelumnya. Hanya saja, bentuk keterlibatan mahasiswa pada beberapa kegiatan seperti terlihat ekslusif. Misalnya, hanya mahasiswa RuG saja yang terlibat dengan kegiatan yang dilakukan oleh RuG, sementara demikian dengan mahasiswa Hanze. Dengan kata lain, peran PPI Groningen yang awalnya untuk menjadi perantara bagi semua aktifitas mahasiswa Indonesia di Groningen sepertinya menjadi berkurang. Beberapa mahasiswa bahkan ada yang menyatakan bahwa sepertinya organisasi PPI Groningen pada masa itu mengalami stagnansi, minim kegiatan dan juga minim kehidupan mahasiswa. Usia organisasi yang masih muda (2 tahun), perbedaan orientasi para anggota, serta minimnya partisipasi anggota sangat berkontribusi besar pada keadaan tersebut.

2001: Pembaharuan

Dengan semangat untuk regenerasi pengurus dan menumbuhkan kembali semangat aktifitas mahasiswa Indonesia yang berada di Groningen, pada tanggal 29 Oktober 2001 dilakukan kembali pemilihan pengurus PPI Groningen untuk periode 2001-2002. Acara ini dilakukan bersamaan dengan acara peringatan Sumpah Pemuda serta menyambut kedatangan Bapak Hasyim Saleh sebagai Kepala Perwakilan RI dari KBRI Den Haag (saat itu KBRI Belanda masih menunggu penunjukkan Duta Besar yang baru). Melihat banyaknya peserta yang hadir pada saat itu menunjukkan bahwa PPI Groningen masih diminati dan dinantikan peranannya oleh banyak pihak. Dari pihak RuG, diwakili oleh Ibu Madeleine Gardeur (direktur hubungan international), Prof. W.D. Verwey (direktur program LLM). Sementara itu pihak Hanzehoogeschool diwakili oleh Mr. Simon Van Der Wal (direktur program International Business). Beberapa orang juga datang dari KBRI yang tentunya diketuai oleh bapak Hasyim dan ibu. Jumlah mahasiswa yang hadir pun semakin besar, dan latar belakang program studi mereka lebih beragam. Tercatat dari RuG, mahasiswa Indonesia mengambil program pada bidang Hukum (LLM & Ph.D), Spatial Science, Management (MSc.IB & Ph.D), Science (Kimia, Fisika & Matematika).

Perlu menjadi catatan bahwa pemilihan pengurus periode 2001-2002 ini sangat dinamis. Terjadi pergeseran yang sangat fundamental dalam organisasi PPI Groningen, dari corak organisasi yang informal dan tradisional menjadi sebuah organisasi yang formal dan lebih terstruktur. Pada acara pemilihan itu hampir semua program studi (baik RuG dan Hanze) terwakili oleh calon-calon mereka. Tercatat ada sekitar 6 orang kandidat untuk menjadi pengurus. Masing-masing dari calon memberikan kampanye dalam bentuk visi, misi dan program rencana jika menjadi ketua PPI Groningen. Secara demokratis dan tertib semua anggota PPI Groningen yang hadir pada saat itu telah melakukan hak pilih mereka. Berikut adalah susunan pengurus periode 2001-2002:

Pengurus PPI Groningen 2001 – 2002

Ketua Umum : Dony Yudianto (LLM Program)
Sekretaris : Siti Gadih Rantih (Hanze)
Bendahara : Arvin Tehupuring (Hanze)

Ka.Bid.OR&Rekreasi: Andreas Ismar Widyastungkoro (Hanze)
Ka.Bid.Kerjasama : Sidharta Indraprasetyo (MSc.IB RuG)
Ka.Bid.Informatika : Antonius Palit (Hanze)
Ka.Bid.Dana&Usaha: Christy Simatupang (Hanze)
Ka.Bid.Iptek : Regina Sari Febrianti (MSc. Chemical RuG)

Kepengurusan kali ini memiliki susunan lebih lengkap dengan adanya Dewan Penasehat dan juga Dewan Pengawas, sbb:

Dewan Penasehat:
1. Safri Nugraha, LL.M (Ph.D. Law, RuG)
2. Heny Rahmawati (Ph.D Farmasi, RuG)
3. Sari Wibisono (Ph.D Management, RuG)
4. Poppy Sutanto (Ph.D Chemical RuG)
Dewan Pengawas:
1. Maki Afianto (Hanze)
2. Rachmat Bambang Trilaksono (Hanze)
3. Dian Tri Wardhani (Hanze)
4. Taufik Hadi Soeriyanto (Hanze)

Beberapa gambar pada saat acara 29 Oktober 2001 di Academie Gebouw, acara Sumpah Pemuda Indonesia dan Pemilihan Pengurus PPI Groningen untuk Periode 2001-2002.

Welcoming speech by Salut Muhidin (organizer)

Guests from KBRI, RuG and Hanzehoogeschool

Students from PPI Groningen with Deputy Chief, of Mission of Republic of Indonesia, Mr. Hasyim Saleh, Mr. Simon Van Der Wal from Hanzehogeschool, Prof. Dr. W.D. Verwey and Drs. Madeline Gardeur from RUG at PPI Groningen annual election, 29 October 2001.

Students from Hanzehoogeschool

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*