Groningen, Kota yang Tak Pernah Tidur ?

Hanya sedikit kota besar di Belanda yang disebut-sebut memiliki denyut kehidupan tanpa henti, selama 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Groningen dan tentu saja Amsterdam adalah dua di antaranya.

Namun, tidak satupun kota tersebut yang bisa dibandingkan dengan Jakarta dalam hal tak pernah tidur. Jakarta mampu mempertahankan vitalitas kehidupan di malam hari pada tingkat yang hampir setara dengan siang hari.

Lalu di mana sebenarnya perbedaannya? Julukan kota yang tak pernah tidur disandang Groningen karena maraknya kehidupan bar di malam hari. Ketika toko-toko, departement store, dan kantor-kantor tutup pada pukul 18.00, sejumlah restoran dan supermarket tetap buka hingga pukul 22.00.

Setelah semua tutup, pub-pub, bar maupun klub- klub malam mulai menggeliat. Mereka selanjutnya beroperasi hingga sekitar pukul 2 pagi dan sebagian tutup tidak lama sebelum fajar menyingsing. Beberapa jam kemudian, mulai pukul 08.00, toko-toko mulai buka. Begitu seterusnya.

Siklus tersebut terjadi setiap hari…kecuali di hari Minggu dan hari libur nasional ataupun kota. Di hari-hari tersebut, semua toko, supermarket dan restoran tutup. Hanya pub dan bar yang tetap buka seperti biasa di malam hari. Jadi, layakkah Groningen menyandang julukan kota yang tak pernah tidur? Tidak!

Kalau memang benar Groningen tidak pernah tidur, rencana mendadak untuk menggelar piknik rujakan di hari minggu, tentu tidak akan batal. Atau, gue tidak akan pernah merasa lapar di malam hari dan hari minggu, hanya gara-gara lupa membeli roti sebelum supermarket tutup.

Malam Hari di Groningen

Bayangkan, bila gue ada di rumah dan saat itu sudah pukul 00.00, Sabtu dini hari. Perut terasa lapar dan salah seorang anggota keluarga mengusulkan untuk ‘pesta’ kerang rebus. Detik itu juga, gue bisa pergi ke pasar Kramat Jati, membeli 3 kilo kerang hijau, lengkuas dan saos sambal. Jadilah kami berpesta kerang sampai muntah…hehehehe.

Atau di hari Minggu malam, dalam perjalanan pulang dari kantor (iya, hari Minggu biasanya gue kerja). Tiba-tiba teringat tadi sebelum pulang, ketika gue masih di kantor, ibu menelepon dan meminta dibelikan kardus untuk tempat nasi kotak. Mampirlah gue ke pasar Pondok Gede dan membeli kardus itu.

Semua itu contoh kejadian di malam hari. Kalau di siang hari, lebih tidak ada masalah lagi. Semua toko di Jakarta buka seperti biasa, termasuk di hari Minggu. Lebaran pun tetap buka!

Jakartalah yang benar-benar layak dijuluki kota yang tak pernah tidur.

Tulisan di atas merupakan cermin penyesalan penulis karena pada Sabtu lalu lupa membeli roti dan Minggu semua toko tutup, yang disambung hingga Senin karena merupakan hari libur nasional…sial..sial..sial!

Kontributor

Windy Indriantari

( Dikutip dari blog pribadi, 12 Mei 2008  melalui WP Testimonial Stuneder)

Foto: BdR76 dan 37hz dengan lisensi Creative Commons
Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*