Terdampar di Portugal

Tempatku tidur di Porto Campanha Airport

Perjalananku ke, di dan dari Portugal, 13 – 20 April 2010 akan jadi salah satu perjalanan yg tak terlupakan dalam hidupku. Bagaimana tidak, menurut sahabatku aku bisa menganggap diriku sebagai bagian dari sejarah hahaha… berlebihan & aku tau dia sedang bercanda.. tapi setelah kupikir-pikir, mungkin juga. Paling tidak perjalanan itu menjadi bagian dari sejarah hidupku sendiri.. yang bisa kuceritakan pada VanyAlma & cucu-cucuku nanti..

Perjalanan ini menjadi berharga, bukan hanya karena tempat-tempat indah yang kukunjungi, sahabat lama & keluarganya yang kutemui, orang-orang baik & ramah (bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantuku), teman-teman baru (dari berbagai bangsa & negara) yang kusapa, tetapi terlebih karena seluruh perjalanan ini membuatku keluar dari tempurungku, mengatasi ketakutanku dan membuatku mengerti apa yang mampu kulakukan.. I know what I’m capable of, because of this particular trip.

Selasa, 13 April, tujuan utamaku adalah Lisbon. Selain Roma, Lisbon adalah salah satu kota yang kutekadkan untuk kukunjungi sebelum pulang ke Indonesia. Bukan semata-mata untuk melihat keindahan kotanya, tapi terlebih untuk mengunjungi seorang sahabat dan keluarganya disana. Aku memutuskan pergi sendiri karena ternyata Portugal bukan tempat favorit bagi teman-temanku yang sama-sama suka jalan. Demi tiket murah, aku harus berangkat jam 2 subuh menuju Bremen untuk naik pesawat Ryanair selama 3 jam, turun di Faro dan melanjutkan perjalanan dengan bis selama kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Lisbon. Demikian pula saat pulang, aku harus berkereta selama 2,5 jam ke Porto untuk kemudian naik pesawat ke Eindhoven selama 3 jam dan melanjutkan dengan kereta ke Groningen selama 2,5 jam. Rencananya, perjalananku kali ini akan berakhir Jumat, 16 April 2010.

Cemas menyelinap dalam hati membayangkan betapa sekian etape perjalanan harus aku hadapi sendiri. Tapi aku berusaha menenangkan diri karena aku pernah ke Bremen dan begitu sampai Lisbon aku akan tinggal bersama sahabatku. Pengalaman naik pesawat Ryanair & naik metro dalam beberapa perjalananku sebelumnya bisa kujadikan referensi.

Sejak berangkat sampai ke Faro, tidak ada kesulitan berarti yang kuhadapi. Bahkan di Faro aku bertemu seorang teman baru. Seorang pelajar dari Lithuania yang sedang menuju Lisbon untuk menemui kekasihnya. Kami sempat berjalan-jalan, berfoto-foto bersama melihat-lihat kota Faro sebelum melanjutkan perjalanan ke Lisbon. Suhu Faro saat itu sangat hangat, sangat berbeda dari Groningen yang dingin. Turis2 berbusana summer berjalan2 di sekitar dermaga. Senang, gembira, tersenyum.

Sampai di Lisbon, aku dijemput sahabatku, istirahat sebentar dan langsung diajak jalan-jalan seputar kota Lisbon. Banyak hal yang bisa dinikmati di Lisbon. Bangunan-bangunan tua dengan detil-detil yang mencengangkan, kastil di atas bukit, menara kota, patung-patung, pusat perbelanjaan, street performance & masih banyak lagi. Keesokan harinya, sahabatku & keluarganya mengantarku ke Fatima, sebuah kota dimana terletak tempat ziarah bagi umat Katolik. Di sana Bunda Maria pernah menampakkan dirinya pada 3 orang anak kecil dan di tempat itu didirikan basilica besar, beberapa kapel dan tempat jalan salib yang indah. Dalam perjalanan kembali ke Lisbon, kami mampir di sebuah tempat yang sangat berangin, sebuah tebing dengan tugu dan salib diatasnya lalu laut lepas. Kata sahabatku, tempat itu adalah ujung barat benua Eropa. Euphoria melandaku seketika.. tak pernah kubayangkan aku berada di ujung Eropa hahahaha… Kami juga mengunjungi Tower of Belem, Jeronimo’s Monastery,dan Monument to the Discoveries. Hari ketiga di Lisbon, aku diantar ke Sintra. Sebuah dataran tinggi diluar kota Lisbon, dimana terletak Pena Palace, sebuah istana bergaya Romanticism yang dicanangkan menjadi warisan dunia (world heritage).

Puas berjalan-jalan, lelah dan senang. Apalagi sambil meladeni kecerewetan gadis kecil lucu & pintar, anak sahabatku, yang selalu mengingatkanku pada VanyAlma di Bandung, perjalananku hampir sempurna. Kecemasan melandai, ketika sedang mengepak kembali barang-barangku dalam ransel, kami melihat berita di CNN tentang gunung berapi yang meletus di Islandia & membuat banyak penerbangan di batalkan. Kami langsung mengecek situs Ryanair dan Porto Airport. Sampai sore itu, jadwal penerbanganku belum masuk dalam daftar yang dibatalkan. Sepanjang malam aku berharap semoga aku tetap bisa berangkat keesokan paginya.

Harapanku tidak menjadi kenyataan. Manusia boleh berencana, katanya, tapi Tuhan yang menentukan. Begitulah yang terjadi padaku. Bangun pagi-pagi dan bersiap-siap berangkat ke Porto. Disambut dengan berita buruk bahwa penerbanganku dibatalkan. Aku berusaha mengganti jadwal penerbangan melalui situs Ryanair tapi tidak berhasil. Karena sudah check-in online, aku harus datang ke bandara & mengganti jadwal disana. Akhirnya aku berkereta ke Porto Airport. Sampai di sana antrian mulai panjang. Aku mengantri dengan banyak orang Jerman & Belanda yang seharusnya terbang ke airport-airport di Jerman & Belanda hari itu. Waktu itu hari Jumat pagi. Aku diberi pilihan, uangku dikembalikan, mengganti jadwal penerbangan dengan tujuan Eindhoven yang berangkat hari Senin pagi, atau tujuan Dusseldorf yang berangkat Minggu sore. Aku pilih penerbangan ke Dusseldorf Minggu sore karena ingin segera sampai Groningen. Walaupun setelah memilih itu aku baru terpikir bahwa kalau sampai di Dusseldorf malam hari, belum tentu aku bisa langsung melanjutkan perjalanan ke Groningen. Karena itu, aku menghubungi salah satu temanku di Jerman, minta pertolongan untuk mencarikan penginapan di Dusseldorf atau jadwal kereta menuju Belanda.

Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di bandara, menolak tawaran sahabatku di Lisbon untuk kembali kesana. Dengan membayar 6 euro untuk menyegel ransel & 2.13 euro untuk jasa penitipan, ransel kutitipkan di tempat penyimpanan barang. Setelah segala urusan beres, hatiku mulai tenang. Aku makan siang di bandara dan merencanakan untuk jalan-jalan di seputar kota Porto sebelum hari gelap. Berbekal peta yang kuambil dari tourist information, aku naik metro menuju Porto. Kota Porto ternyata tidak kalah indahnya dengan Lisbon. Bangunan-bangunan tua, tugu-tugu, taman, dan satu yang berkesan adalah sungai lebar bernama Ribiera dengan jembatan panjang yang menghubungkan tengah kota Porto dengan daerah bernama Gaia. Cafe-cafe di sepanjang sungai memasang meja dan payung-payung di depan toko mereka. Romantis 🙂 sayangnya.. waktu itu hujan. Aku berteduh sambil minum kopi di salah satu cafe. Pelayannya mengajakku ngobrol. Ternyata dia orang Eindhoven yang bekerja di sana selama summer. Sebelum hari gelap aku kembali ke bandara. Mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Aku tidur di sebuah bangku panjang terbuat dari besi yang membuat sepanjang malam itu aku kedinginan dan sering terbangun. Bandara Porto cukup luas, aman, buka 24 jam dan banyak orang yang juga menginap di sana sambil menunggu penerbangan.

Keesokan pagi, aku bangun dengan semangat. Aku sudah berencana, aku akan membaca artikel yang kubawa sambil menunggu pesawatku terbang sore harinya. Tetapi, selesai sarapan aku melihat di papan pengumuman banyak penerbangan ke Jerman dibatalkan. Cemas menyelinap lagi. Aku cek situs ryanair dan ternyata benar, penerbanganku sore itu dibatalkan lagi. Huaaaa… seketika ingin menangis & panik.. Aku hubungi sahabatku di Lisbon, minta tolong untuk mencarikan bis atau kereta yang bisa segera membawaku ke Groningen. Aku benar-benar ingin cepat sampai Groningen karena ada kuliah yang harus kuikuti hari Selasa dan ada target untuk tesisku yang harus kuselesaikan. Aku mengantri lagi di loket Ryanair untuk mengganti jadwal pesawat. Kali ini banyak orang Perancis & Jerman yang mengantri. Sementara mengantri, sahabatku memberi kabar bahwa ada kereta dari Lisbon ke Amsterdam yang berangkat hari Senin pagi dengan harga 144 euro. Aku menunda keputusanku untuk membeli tiket tersebut karena masih ingin mencari kepastian dari Ryanair. Ternyata, jadwal penerbangan ke Belanda atau Jerman baru ada lagi pada hari Selasa siang. Aku memutuskan untuk minta penggantian uang, lalu meminta temanku membelikan tiket bis Lisbon – Amsterdam dan kembali ke Lisbon, ke rumah sahabatku.

Dalam perjalanan menuju Lisbon, sahabatku memberi kabar ternyata tiket bis Lisbon – Amsterdam sudah habis terjual. Keputusanku yang terlambat beberapa menit saja, membuatku kembali gagal segera sampai di Groningen. Untungnya sahabatku menemukan perusahaan bis yang masih menjual tiket dari Lisbon ke Paris seharga 89 euro. Seketika aku meminta sahabatku untuk membeli tiket itu, tanpa banyak bertanya & tanpa banyak pertimbangan lagi daripada menanggung resiko kehabisan tiket lagi. Setelah itu, baru terpikirkan bahwa aku masih harus mencari tiket kereta dari Paris menuju Groningen dan baru terpikirkan juga bahwa aku tetap tidak bisa menghadiri kuliahku hari Selasa karena butuh 38 jam perjalanan untuk sampai di Groningen dari Lisbon melalui jalan darat.

Hari Sabtu malam, aku kembali ke rumah sahabatku. Malam itu, aku memesan tiket kereta dari Paris ke Groningen melalui situs Nshighspeed dan membayar 123 euro. Keesokan harinya, seolah-olah ingin menghiburku (hehehe.. gw GR bgt ya boo..) aku kembali diajak jalan-jalan. Kali ini, mengunjungi Cristo Rei. Sebuah tempat dimana berdiri patung besar Yesus sedang merentangkan tangannya seperti yang ada juga di Dilli & Rio de Janeiro. Dalam jalan-jalan ini temanku tambah banyak, karena sahabatku juga mengajak kenalan-kenalannya, sebanyak 9 orang. Perjalanan yang seru, diakhiri dengan makan-makan enak dan ngobrol-ngobrol santai, sejenak membuatku lupa pada kekecewaan, kepanikan dan rasa rindu yang melanda terhadap kamar dan sahabat-sahabatku di Groningen.

Perjalanan ke Cristo Rei membuatku terpana, karena ketika berada di dalam kapel Cristo Rei aku mengambil sebuah kertas yang disediakan untuk pengunjung dan diantara sekian banyak kertas kecil yang tersedia, terambil olehku, kertas bertuliskan : “Do not be anxious about anything. In everything resort to prayer and supplication together with thanksgiving and bring your request before God (Fil 4:7)”

Akhirnya datang juga hari yang dinantikan. Senin siang pk 13.30, bisku berangkat. Aku diantar istri sahabatku & anaknya. Terharu karena kebaikan dan kemurahatian mereka menjadi shelter selama aku terdampar, kami berpelukan. Aku berkenalan dengan dua orang perempuan Inggris. Sama seperti aku, pesawat mereka menuju UK dibatalkan. Nasib mereka lebih buruk dari aku karena sesampainya di Paris mereka masih harus mencari transportasi untuk sampai ke Cambridge. Mereka berencana naik bis lagi dan ferry. Duduk di sebelahku seorang perempuan Perancis. Dia dan suaminya akan menunju Lyon sesampainya di Paris. Tampaknya semua orang di bis itu mengalami pengalaman yang sama denganku. Pesawat mereka dibatalkan. Kebanyakan mereka orang-orang berbahasa Portugis & Perancis, beberapa berbahasa Inggris. Hanya aku yang orang Asia. Aku merasa sedang berada di Menara Babel, dimana semua orang berbeda bahasa & semua terasa asing bagiku.

Kecemasan kembali datang ketika baru saja 2 jam perjalanan, ban bis yang kutumpangi kempes !! Aku berpikir.. “kenapa sial banget sih gueeeeeee???” Cemas karena aku takut terlambat sampai di Paris dan ketinggalan kereta yang menuju Groningen. Akhirnya aku pasrah, berusaha berdoa – dalam situasi seperti ini, herannya aku malah sulit berdoa – dan berdiam diri atau mengalihkan pikiran dengan mengajak ngobrol dua perempuan Inggris teman seperjalananku.

Sampai di Paris, hari Selasa pk 17.00 di terminal Galieni. Aku harus menuju Gare du Nord untuk naik kereta Thalys menuju Brussel pk 18.00. Untungnya, seorang sahabatku di Groningen sudah memberi petunjuk jalur metro dari Galieni menuju Gare du Nord. Saat itu adalah saat yang paling menegangkan karena aku harus membeli tiket metro, mencari jalur metro yang tepat di tengah hiruk pikuk metro Paris, turun di stasiun yang tepat untuk berganti jalur metro dan harus bergegas karena waktu yang sempit.

Kelegaan mulai menghampiriku ketika aku menginjakan kaki di Gare du Nord 30 menit sebelum kereta berangkat. Begitu duduk di kereta Thalys, aku menghembuskan napas lega. Aku mengirim kabar pada orang-orang terdekatku yang selama ini menemaniku dan memberi semangat melalui sms, bahwa aku sudah hampir dekat Groningen hahahaha.. padahal masih 10 jam lagi sebelum aku sampai di kamarku yang nyaman.

Sampai di Brussel pk. 19.23. Jadwal kereta berikutnya menuju Amsterdam pk. 20.18. Sempat minum kopi & makan croissant, kereta yang ditunggu-tunggu ternyata terlambat 20 menit. Pada titik itu, aku sudah tidak mau mengeluh, tidak mau bertanya mengapa aku sial lagi. Cukup. Harapanku hanya segera sampai Groningen malam itu, bagaimanapun caranya. Di dalam kereta menuju Amsterdam aku minta tolong sahabatku di Groningen untuk mengecek situs ns.nl tentang kereta terakhir dari Schipol atau Rotterdam menuju Groningen. Berdasarkan informasinya, aku memutuskan untuk turun di Rotterdam untuk melanjutkan ke Amersfort dan dari Amersfort ke Groningen. Selama perjalanan, aku berharap supaya untuk etape terakhir ini perjalananku lancar. Kalau ada satu saja kereta yang terlambat maka aku akan terdampar lagi di salah satu kota itu. Bersyukur, karena akhirnya aku bisa naik kereta terakhir dari Rotterdam menuju Amersfort dan dari Amersfort ke Groningen. Sampai Groningen CS pk 02.00 Rabu dini hari. Lelah, gatal-gatal karena 2 hari tidak mandi, tapi bersyukur karena akhirnya aku sampai di ‘rumah’.

Pengalaman 3 hari terdampar di Portugal, membuatku belajar untuk tidak terlalu cemas pada hal-hal yang belum terjadi. Aku belajar untuk menjalani apa yang harus kuhadapi saat itu dan tidak terlalu banyak berencana. Seorang sahabat bilang, setiap hari punya kesusahannya sendiri. Suamiku menulis di wall FB-ku, supaya aku menjalani setiap kesulitan seperti air mengalir. Sms-sms yang datang dari orang-orang terdekat sepanjang perjalanan menyemangatiku untuk tetap tegar menghadapi kesulitan. Dan ketika aku membandingkan kesulitan yang kualami selama 3 hari kemarin dengan kesulitan orang lain yang sama-sama terdampar atau dengan orang lain yang mengalami musibah berat, sepertinya tidak pantas aku mengeluh. Pengalaman berharga memang harus dibayar, itu kata Ibuku waktu beliau meneleponku. Aku juga belajar menjadi lebih cepat mengambil keputusan, lebih tanggap terhadap lingkungan sekitarku, lebih berani bertindak dan lebih asertif memulai percakapan dengan orang baru, hal-hal yang selama ini kupikir tidak termasuk sifatku. Now, I know what I’m capable of. Thank God for making me stranded in Portugal 🙂

Kontributor

Asteria Devy

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*