ISC 4: Melintasi Perkebunan Apel di Applebergen

45 menit menjelang start ISC-4 dan mendung masih menggelayut di langit Lewenborg. Bismillah, setelah beberapa saat Nina mengecek perlengkapan kameranya, kami meluncur ke tempat start di kantor VVV Grotemarkt. Alhamdulillah, sesampai disana cuaca semakin cerah, membuat kami harus mengemas kembali jaket yang kami pakai. Satu persatu personel ISC mulai muncul; Pak Adji dan kemudian Aster. Dan setelah jarum Martini tower menunjukkan 15.45, berempat kami mulai mengayuh sepeda ke arah selatan Groningen. Kami balik rute yg direncakan semula, bukannya lewat Hornsemeer dulu akan tetapi menyisir pinggir timur dari rute ; menuju Appelbergen hingga Zuidlaren baru nanti kembalinya Hornsemeer.

Ruas Helperzoom dan Kerklaan sepertinya memang jalur bagi para kommuter dari Haren. Jalanan teduh dan tidak ramai kendaraan bermotor merupakan jalur yg sempurna tuk dilewati tiap hari kerja. Dan belum 1 km menyusuri Helperzoom, kita sudah disuguhi dengan bau yg berbeda. Bau tanah basah dan segarnya pepohonan. Pesona sepetak kebun anggur bertuliskan biologisch/organik persis di samping kanan jalan tak kuasa kami tolak. Memaksa kami tuk berhenti dan sejenak mengabadikan buah buah kecil hijau yg hampir masak. Hal yg luar biasa bagi kami khususnya yg selama ini hanya tahu mengkonsumsi anggur tanpa pernah liat langsung di pohonnya.

Selanjutnya, memasuki Haren kami dibawa menyusuri fietspad yang memang sengaja dibuat melewati wilayah hijau kota Haren. Tidak banyak mobil yang kami temui, tp justru para tua dan muda yang sedang jogging dan bersepeda. Setelah melintasi rel tidak jauh dari stasiun Haren dan setelah dengan was was mencoba berfoto di tengah rel, kami sempat ragu untuk terus karena jalan aspal sekarang berubah menjadi jalan tanah. Akan tetapi kemudian beberapa rombongan pesepeda melintas dari arah depan kami. Saya jd ingat, memang ada satu ruas jalan yang tidak muncul di google maps kalo kita klik map, tapi klo kita ganti ke versi satelite dan di zoom in akan terlihat samar samar jalan lurus diantara pepohonan di hutan. Ternyata kami sudah memasuki kawasan Applebergen, ‘gunungnya’ provincie Groningen.

Pohon pohon di Applebergen lumayan bervariasi dan terlihat lumayan tua, dilihat dari volumenya dan tumbuhan merambat yang tumbuh sepanjang batangnya:jadi ingat Barotan ketika di Sulawesi. Sejuk nian melewati pepohonan ini. Terasa sekali kesan offroadnya dengan jalan tanah dan tapak2 kuda di atasnya. Dan tepat di depan bungalow applebergen, kami melihat papan penunjuk sebuah monumen. kami menyoba mencarinya tapi tidak ketemu. akan tetapi kami justru menemukan di tengah hutan di sebuah jalan setapak, papan penunjuk dengan satu panah menunjuk ke utara bertuliskan Pieterburen, satunya menunjuk ke selatan bertuliskan Pietersberg. Owh..inilah Pieterpad yang terkenal itu. Pak Adji menjelaskan ini adalah jalur trekking/berjalan kaki sepanjang 485 km dari Pieterburen di utara hingga puncak Saint peter di Maastricht.

Keluar dari Applebergen, sudah terdapat jalan aspal kasar untuk fietspad tetapi tetap jalan tanah untuk mobil. Di kanan  kiri beberapa kami menemukan tempat kemping yg lg ramai dikunjungi. Memasuki desa petani Noordlaren, terlihat rumah dengan tanah yg luas untuk menggembalakan kuda, kambing, sapi dan beberapa petak kebun jagung serta sayuran. Terkesan mode self sustanance msh menghiasi kehidupan masyarakat disini. Mode hidup berusaha sebisa mungkin mandiri khususnya tuk kebutuhan pokok sehari hari. Aster menyempatkan membeli madu di sebuah kios kejujuran bertuliskan “Honing te koop” di pinggir jalan. Dengan memasukkan ke celengan sebesar 2 euro per botolnya kita bs memilih beragam madu dari bunga yg berbeda. Di desa ini pula terletak salah satu situs megalitikum eropa. Memasuki tengah desa, akan terlihat papan penunjuk mengarah ke barat bertuliskan Hunebed, kuburan megalitikum. Hanya sekitar 100 meter keluar dari desa, di tengah padang gandum dan pepohonan besar kita bs menemukan batu batu besar ditata sedemikian rupa seperti bifak ato tenda darurat. Beberapa batu berfungsi sebagai fondasi dan sebuah batu besar diletakkan di atasnya seakan berfungsi sebagai atap. Sungguh luar biasa membayangkan bagaimana orang dulu bisa sampai punya ide seperti ini. sempat terfikir apakah memang ini penanda sebuah kuburan ato mungkin gaya orang dl main boy boyan. Yg jelas, tipe batunya tdk dpt ditemukan di wilayah Belanda manapun, pastinya dari daerah dengan gunung berapi.

Sejenak melepas lelah, melihat peta lagi, berfoto di ladang gandum dan di kuburan dng tripod modifikasi kadang berupa sepeda, kadang tempat sampah, kadang batu kuburan…. Rasa sejuk dan hangatnya senja terasa sebegai hadiah yang tak terkira. kami berdiskusi apa mau memotong trus mengikuti jalan tanah ini ato kembali ke rute semula tuk menuju Zuidlaren. kami setuju untuk trus sampai selatan di Zuidlaren. Keluar dari kompleks kuburan, ternyata ban saya sedikit gembos. Wah kayaknya terlalu banyak beban nih…jd terbayang film horor mungkin da yg ikut bonceng ya. lha klo ini kuburannya segede itu, demitnya pastinya gedhe banget. Mm ternyata krn memang bannya sudah mulai gundul dan kurang siap tuk medan offroad yg tadi dilewati.

Keluar dari Noordlaren dan memasuki Midlaren, gementee Tynarloo, kita berbelok kiri ke danau Zuidlardermeer. Lebih luas daripada Hoornsmeer dan Paterswoldemeer. Pavilun paviliun yg sangat bagus, yacht mewah terparkir disana. lumayan ramai dengan para pengunjung yg sedang berlatih windsurfing, cannoeing ato berkumpul di paviliun sambil mengikuti summercamp. Perjalanan berlanjut menyusuri Esweg menuju Zuidlaren. Di spanjang jalan bertebaran ranch dengan kuda terbaiknya diselingi sesekali padang gandum, dan bunga matahari. Sebuah spot indah yg layak tuk diabadikan.

Setelah berkeliling Zuidlaren, sekaligus sedikit tersesat..maklum habis dari hutan langsung masuk kota bingung dengan banyaknya cabang cabang jalan. akhirnya mampu jg kita sampai di ujung barat Zuidlaren, yang mengantar ke jalan pulang. Setengah jalan sudah kita lalui, dan jam sudah menunjukkan angka 8. Kita tinggal kembali menuju lurus ke utara untuk sampai di Groningen. Jalan jalan aspal kasar dan tanah tuk mobil di sela sela pepohonan di hutan, beberapa vila dan perkemahan kembali kami lalui. Memang luar biasa infrastruktur yg sudah dibangun. Jalanan memang sengaja dibuat untuk memotivasi orang bersepeda dan men discourage orang menggunakan mobil melewatinya. ..kecuali mau mabuk darat digoncang di jalanan berlobang.

Memasuki Glimmen kami memutuskan memotong rute. kami memilih mengambil jalan lurus melewati pusat Haren dan melewatkan paterswolde dan hornsemeer. Hari sudah lumayan sore, dan perut mulai tidak kompromi. bukan perjalanan jauh sebenarnya, tetapi dikarenakan banyaknya titik yg tdk mungkin kami lewati tanpa mengambil gambarnya..dengan modelnya tentu saja. Di sepanjang jalan lurus Rijksstraaweg, banyak rumah megah dengan halaman yg indah laksana istana bogor minus kijangnya. Beberapa rumah bertuliskan pusat terapi mental…beruntung kami tidak perlu sakit mental tuk menikmati indahnya Haren.Rumah rumah megah berganti dengan rumah rumah medium, bernuansa pragmatis dan halaman rapi yg sempit menandakan sebentar lg kami sampai di Groningen.

Akhirnya tim berpisah di sebuah warung dekat harmonie building, sebagian ingin segera pulang untuk menurunkan pakaian dari jemuran, sebagian singgah ke warung untuk menyapa penjualnya . Kabar sedih sempat kami dengar, karena barusan segerombolan mahasiswa Indonesia sukses menyantroni warung ini. Beruntung, 2 porsi terakhir hidangan favorit msh tersedia kami, akan tetapi menyisakan kesedihan bagi sepasangan suami istri yg datang dng niat yg sama.

Alhamdulillah, cuaca yg cerah, matahari senja yg hangat, panorama yg mengagumkan, keramahan petani pedesaan Belanda, situs sejarah yg mencengangkan, pengalaman persahabatan yg mengesankan dan tentunya medan yang menantang membuat kami berempat bersyukur krn tidak melewatkan trip ini. Semuanya merupakan buah yg dihadiahkan oleh Tuhan. Dan tentunya kami berharap bukan hanya kenikmatan inderawi yg kami dapatkan, tp kelembutan hati yg membuat kami terus bersyukur atas nikmat yg selalu diberikan. Just a perfect day to start the Ramadan…

Happy Ramadan, dan tunggu trip berikutnya dalam edisi ISC ngabuburit ..

Kontributor

Muhammad Sigit

Foto: Nina A Akrom

Share this:

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*