Tour van Delfzijl, mampukah mereka?

Tour de Delfzijl

Sabtu, 1 Oktober 2011 pukul 09.00 CET. Cuaca masih dingin saat itu, badan pun masih meronta ingin kembali berbaring di dekapan kasur. Entah apa yang merasuki 13 pemuda-pemudi (paling tidak muda menurut pengakuan mereka) itu untuk bangun pagi dan pergi ke Grotemarkt dengan sepedanya masing-masing. Lebih sulit lagi dimengerti ketika selanjutnya diketahui bahwa mereka akan menempuh perjalanan tidak kurang dari 60 km menuju Delfzijl dengan mengayuh sepeda. Gila!

Mohon dicatat, tidak semua dari orang-orang itu rajin berolahraga sebelumnya. Jangankan 60 km, jarak rumah dan kampus di dalam kota Groningen yang rata-rata dibawah radius 5 km pun kadang membuat mereka malas. Lagipula tersirat di wajah beberapa dari mereka keraguan. Akankah mereka mampu mengayuh sepeda sejauh itu?

Perjalanan itupun dimulai. Lumayan tepat waktu. Kata lumayan ini pujian bagi mereka orang-orang Indonesia. Mereka memang telat tapi masih dalam batas yang bahkan orang Jepang atau Belanda tulenpun masih dapat memahami.

Dipandu oleh seseorang yang terlihat paling gempal diantara mereka, rombongan itu melaju menuju bagian timur Groningen. Mereka dengan santai bersepeda menuju pemberhentian pertama, Noorddijk. Kawasan pertanian dan peternakan di pinggir kota Groningen, dekat dengan Lewenborg yang menurut legenda “jauh hingga harus menyiapkan paspor menuju kesana”. Disanalah rombongan 13 pemuda-pemudi pemberani ini akan kedatangan 3 pemuda lain yang turut bergabung dalam kaukus petualangan tersebut.

Disana mereka melihat sebuah kincir angin tua dari abad 18 dan tentunya pemandangan alam disekitarnya yang…. datar. Sebelum tiba di Noordermolen, begitu nama kincir angin tersebut, mereka juga melewati kompleks olahraga Kardinge dan sekaligus area konservasi alam. Disana terdapat sebuah jalan yang sungguh asri, dimana pohon-pohon rapi berbaris menjaga sisi jalan dan seperti bertekad membuat orang-orang terpukau dengan keberadaan mereka. Kalau tidak salah, rasanya tempat ini memang menjadi ‘hotspot’ untuk para pencinta fotografi. Bukan hanya mereka yang hobi mengambil foto, tapi juga untuk fotomodel-fotomodel amatir dan dadakan yang ‘narsis’. Jajaran pohon-pohon yang banyak jumlahnya itu juga mengundang salah satu pemuda yang ikut dalam rombongan untuk menyalurkan hasratnya buang air kecil. Semoga pemuda tersebut tidak lupa mengucap ‘permisi’, agar ia tidak diganggu roh penunggu, yang bisa jadi kaukasian (baca: bule).

Pukul 10.30, matahari mulai tancap gas mengeluarkan daya dan upayanya menghangatkan bumi. Ia seakan belum rela apabila musim panas harus diganti oleh musim gugur. Saat itulah rombongan ini tiba di depan salah satu penanda batas kota Groningen. Penanda batas tersebut merupakan sebuah karya seni seorang bernama William Forsythe di tahun 1949 berupa deretan pohon-pohon yang tumbuh melengkung menghadap ke arah yang sama. Unik, dan sungguh menarik. Rasanya mudah untuk yakin bila menganggap bahwa sebagian besar dari rombongan itu tidak tahu mengenai keberadaan penanda batas kota Groningen sebelumnya. ‘Kromme bomen’ ini adalah salah satu dari sembilan penanda batas yang masing-masing mewakili huruf-huruf dalam kata ‘CRUONINGA’, nama kota kuno jaman Romawi yang menjadi asal muasal nama Groningen.

Rombongan itu mulai berjalan menjauh meninggalkan hiruk pikuk kota Groningen. Gantinya, pemandangan lahan pertanian mulai nampak dan rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat. Mereka menyusuri jalan khusus sepeda membentuk rangkaian sepeda paling panjang di jalur tersebut hari itu. Rasanya mudah membuat penduduk atau pengendara mobil untuk menoleh pada kelompok itu.

Saat jarum panjang berusaha mencapai angka 6 dan jarum pendek dengan santai bergerak menuju angka 11, mereka tiba di kota kecil bernama Ten Boer. Disana mereka melihat dua buah kincir angin berdiri berurutan dari yang kecil hingga yang lebih besar. Dari papan yang terpasang di dekatnya, mereka tahu bahwa yang besar bernama ‘Widde Meuln’ dan yang kecil dipanggil ‘de Bovenrijge’ oleh penduduk sekitar. Berkat jasa Pak Archi, sahabat istimewa PPI Groningen yang turut dalam rombongan itu, mereka semua dapat mendengarkan penjelasan si juru kunci kincir angin. Jangan berpikiran mistis, juru kunci disini benar-benar patuh secara denotatif mewakili orang yang memegang kunci kincir angin. Ia menjelaskan mengenai cara kerja kincir angin, dan fakta-fakta lain yang membuat rombongan tercengang dan sedikit memaklumi kenapa Belanda bisa menjajah Indonesia. Mereka sadar bahwa kincir angin bukan hanya soal cinderamata dari Belanda, tapi benda yang menunjukkan bagaimana orang-orang Belanda berjuang dan berinovasi menghadapi kejammnya alam mereka. Tahukah kalian bahwa kincir angin bisa dengan mudah dipindah-pindahkan, dan dengan gampang di putar arahnya sesuai arah angin? Yang jelas, rombongan itu kini sudah mengetahui caranya.

Penjelasan mengenai kincir angin ini memang diluar rencana. Waktupun sudah menunjukkan betapa terlambatnya mereka dari jadwal. Berbekal semangat dan mungkin juga harapan bahwa bila mereka bisa cepat sampai Delfzijl mereka dapat segera makan siang, rombongan bergerak melaju dengan kecepatan yang sudah ditambah. Belum nampak tanda-tanda letih pada wajah mereka, bahkan ada optimisme yang mulai terpancar bahwa mereka bisa menyelesaikan perjalanan ini. Bahkan ketika mereka mendapat informasi bahwa sesungguhnya mereka akan menempuh jarak lebih jauh yang mereka ketahui saat itu. Tapi sungguh itu bukan penipuan, sebab pemimpin rombongan hanya tidak ingin menginformasikan jarak yang lebih jauh yang bisa membuat minat pemuda-pemudi itu luruh.

Mengejar ketertinggalan waktu, kelompok pesepeda itu langsung menuju kota lain. Mereka kaget karena di tengah perjalanan mereka harus melewati sebagian jalan yang belum selesai dibangun. Pengalaman off-road ini mengharuskan rombongan menuntun sepeda melewati pasir dan lubang-lubang besar. Bukannya kesal, rombongan aneh ini malah tertawa-tawa. Kejutan tersebut telah mewarnai perjalanan mereka menuju Appingedam.

Rombongan tiba di Appingedam pukul dua siang kurang sedikit. Tuntutan perut untuk minta diisi tidak tertahankan lagi. Mereka pun menikmati syahdunya kota Appingedam dengan menyantap makan siang. Ada yang makan bekal yang telah disiapkan, ada yang membeli kibbeling, ada yang menyantap roti, dan bahkan ada yang makan menu wortel mentah. Apapun makanannya asal membuat perut mereka kenyang. Mereka berkeliling sedikit di Appingedam. Melihat gereja tua yang bangunannya miring, rumah-rumah bergaya middle-ages, dan hanging kitchen yang memang terkenal di Appingedam. Ada sebuah patung lucu berbentuk pria gempal dengan hidung mancung yang menjadi objek foto bagi beberapa diantara anggota rombongan. Tanpa disangka seorang penduduk lokal mengenalkan mereka pada orang yang menjadi model patung tersebut. Penilaian mereka saat itu, 99% mirip!

Appingedam terletak sangat dekat dengan Delfzijl, oleh karenanya dalam waktu singkat mereka tiba di kota tujuan mereka. Tujuan pertama mereka adalah sebuah mesjid Turki, tempat sebagian dari mereka menunaikan ibadah dan sebagian lagi santai-santai meluruskan kaki dan mengistirahatkan pantat. Iya pantat, karena tanpa disadari tidak hanya kaki yang bekerja keras. Pantatpun harus bekerja ekstra keras.

Di mesjid mereka diajak berkeliling mesjid, diceritakan sejarahnya, dan simbol-simbol yang ada disana. Mereka juga dihidangkan pizza dan combro ala Turki. Patra pemuda Turki yang saat itu menjaga mesjid sangat ramah kepada mereka dan tentu membuat mereka kerasan untuk tinggal lebih lama di mesjid, namun mereka harus menyaksikan hal istimewa lain di Delfzijl. Rombongan pun meninggalkan mesjid dan bersepeda sejenak menuju pantai Delfzijl.

Pantainya sangat tenang dan juga indah. Hasrat untuk difoto kembali membuncah. Masing-masing dari mereka sibuk mengabadikan pengalaman mereka. Melihat ke arah laut yang saat itu seperti tanpa batas, tanpa horizon. Disana terlihat mereka beberapa kali membuat foto bersama dengan berbagai gaya bak fotomodel profesional.

Di Delfzijl itu pula rombongan melihat sebuah kincir angin besar bernama Adam. Tentunya nama ini bukan diambil dari nama suami penyanyi dangdut Indonesia. Mereka kembali berfoto bersama sebelum harus pulang karena matahari yang tadi begitu menyengat sudah memutuskan untuk pergi tidur. Rombongan itu pun bersiap-siap kembali ke Groningen. Mereka memantapkan perbekalan, dan mengumpulkan sisa tenaga dan semangat untuk mengayuh pulang. Jaraknya tidak dekat, padahal tenaganya sudah hampir habis. Tapi mengetahui bahwa mereka akan bersama-sama tidak menyurutkan langkah mereka, apalagi membuat mereka memutuskan pulang naik kereta. Tidak! Tidak pernah terbersit dari satupun anggota rombongan tersebut untuk pulang menggunakan kereta.

Melewati jalan yang sama ketika pergi hanya saja kondisi berbeda 180 derajat. Gelap perlahan menyelimuti jalan mereka. Dingin pun tak mau kalah menambah tantangan bagi rombongan ini. Lebih parah, mereka pun harus menghadapi kabut, yang membuat jarak pandang semakin pendek. Perlahan-lahan mereka tetap mengayuh hingga akhirnya mereka semua tiba kembali di Groningen.

Satu yang tidak mereka sadari bahwa hari itu bertepatan dengan hari nasional Indonesia. Hari Kesaktian Pancasila. Meskipun tidak menyadarinya, mereka telah menunjukkan kesaktian yang sama. Kesaktian yang membuat mereka yang awalnya ragu untuk ikut perjalanan ini tetap nekat untuk ikut. Rombongan membuktikan bahwa mereka mampu melakukan apa yang sebelumnya tidak dapat mereka bayangkan, bahwa mereka mampu melakukan sesuatu melebihi apa yang mereka takutkan (di akhir perjalanan tercatat mereka menempuh 76 km). Apapun yang terjadi hari itu, segala tawa yang terjadi, segala cerita yang hadir, dan peluh yang membasahi tubuh membaur menjadi pengalaman yang tidak biasa. Pengalaman yang mungkin tidak bisa dirasakan semua orang.

Hal yang positif lainnya pun mereka alami. Pertemanan diantara mereka kini semakin tumbuh . Indikasi modernnya adalah banyaknya notifikasi di facebook yang memberitahu bahwa si A kini berteman dengan si B. Dan, walaupun diantara mereka ada yang berjanji tidak akan naik sepeda sementara waktu karena ada bagian personal yang sakit, kepercayaan diri bersepeda mereka kini sudah patut diacungi jempol. All in all, kepercayaan diri untuk melakukan sesuatu yang luar biasa (melampaui sesuatu yang diperkirakan) juga meningkat, semoga itu termasuk dalam menyelesaikan studi atau tantangan kehidupan lainnya.

Sejarah mencatat keenambelas pemuda itu adalah: Martin, Archi, Edo, Rian, Ajie, Arief, Roy, Setyanto, Glenn, Mima, Anita, Habib, Tasha, Rangga, Sonia, dan Jonathan. Semoga lebih banyak lagi pemuda dan pemudi dalam petualangan berikutnya.

Kontributor

Martin William

Foto: Martin William

Share this:

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*