ISC April 2014: Menyimak perkembangan VCD di Indonesia

03_Audiens_03PPI-Groningen pada hari Jumat, 25 April 2014 yang lalu kembali mengadakan acara rutin Indonesia Science Café (ISC). Kali ini ISC menampilkan satu pembicara, yaitu Ari Purnama yang merupakan kandidat doktor dari Faculty of Arts, University of Groningen. Materi yang dipresentasikan merupakan salah satu bagian dari disertasi risetnya, yaitu “Video Compact Disc (VCD) Technology and Film Education in Southeast Asia: The Case of Indonesia”.

Dalam presentasinya, Ari Purnama mengungkapkan mengapa teknologi VCD tetap bertahan di kawasan Asia Tenggara, meskipun saat ini telah berkembang teknologi yang jauh lebih baik kualitasnya secara visual (resolusi gambar), yaitu DVD dan DVD Blue Ray. Ternyata fenomena ini terjadi terutama disebabkan oleh faktor ekonomi, dimana dengan adanya produksi murah dari China menjadikan piranti VCD player harganya sangat terjangkau oleh golongan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah yang keberadaannya mendominasi kawasan ini. Sehingga kita dapat menemukan piranti ini di berbagai pelosok daerah. Sementara hal sebaliknya terjadi pada DVD player yang cenderung ditemukan di kota-kota besar. Selain itu, dokumen dengan format VCD sangat mudah untuk digandakan. Adanya kondisi ini menyebabkan tidak hanya keping cakram VCD sangat mudah kita temukan hingga ke desa-desa, namun juga mendorong tingginya pembajakan film di Asia Tenggara, tak terkecuali di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, film-film lama (klasik) hanya dapat ditemukan di pasaran dalam format VCD, seperti misalnya film-film Benyamin S, Warkop DKI, dan film dokumenter G30-S/PKI. Berbagai komunitas film, seperti misalnya misbar, piknik sinema, kineforum, tak lepas dari pengaruh beredarnya format VCD tersebut. VCD sendiri berperan sebagai arsip perfilman di Indonesia sebagaimana yang dikelola oleh Sinematek Indonesia.

09_closingPada sesi diskusi, berbagai isu dibahas seperti masalah pembajakan film, kondisi bertahannya VCD di pelosok Indonesia, VCD sebagai disruptive technology, hingga sangat minimnya institusi pendidikan formal perfilman di Indonesia. Hal menarik yang diungkapkan oleh Ari Purnama adalah kenyataan bahwa masyarakat di Indonesia belum menganggap bidang-bidang seni kreatif dan humanity sebagai bisnis industri, suatu kondisi yang menjadikan Indonesia kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Thailand. Salah satu pesan yang disampaikan oleh pembicara di akhir sesi ini adalah jika kita memiliki koleksi VCD sebaiknya dirawat dengan baik, agar dapat menjadi arsip yang dapat dipelajari oleh generasi mendatang. (Vera D Damayanti)

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*