Indonesian Day 2014: The Colours of Diversity

IMG_0904Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPIG) kembali menyelenggarakan acara promosi budaya Nusantara bertajuk Indonesian Day pada hari Sabtu, 3 Mei 2014 yang lalu di Treslinghuis, Groningen. Acara ini merupakan acara tahunan PPIG, dan tahun ini tema yang diambil adalah “The Colours of Diversity”. Indonesian Day merupakan acara terbesar PPIG yang bertujuan untuk memperkenalkan tentang Indonesia kepada dunia internasional, khususnya di bidang kesenian dan kuliner.

Seperti pada tahun lalu, Indonesian Day kali ini dibagi menjadi dua sesi, siang dan malam. Sesi siang yang dimulai pada pukul 12.00 sampai 16.00 terdiri dari bazaar yang menjual berbagi kuliner khas Indonesia dan pertunjukan kesenian baik klasik maupun modern. Kombinasi antara bazaar makanan dan pertunjukan kesenian rupanya menarik minat pengunjung. Sekilas diamati, jumlah pengunjung lebih banyak dari acara yang sama pada tahun lalu. Selain pengujung dari anggota PPIG sendiri, terdapat juga para mahasiswa Indonesia dari kota-kota lain di Belanda seperti dari Delft, The Hague, dan Rotterdam. Umumnya mereka datang untuk mengobati rasa rindu akan kuliner tanah air.

IMG_0376Selain itu, yang tidak kalah penting adalah banyak warga asing yang hadir. Selain menikmati makanan yang dijual seperti sate ayam, mie ayam, jamu beras kencur, dll, mereka juga sangat puas menyaksikan pertunjukan kesenian seperti Tari Sebati Tunjungan dari Riau, angklung, dan Tari Saman dari Aceh. Hal yang unik adalah pertunjukan pencak silat yang disajikan oleh para warga Belanda yang memang sudah menekuni kesenian ini sejak lama. Pada acara siang juga terdapat workshop memasak dan membatik yang kesemuanya pesertanya adalah para warga asing.

Setelah selesai dengan acara siang, panitia segera bersiap-siap untuk menyiapkan acara malam yang konsepnya berupa makan malam (fine dining) dikombinasikan dengan pertunjukan kesenian. Berbeda dengan acara siang yang tidak ditarik biaya masuk, untuk dapat mengikuti makan malam setiap peserta ditarik bayaran Euro 20. Menurut informasi dari panitia, kursi yang tersedia, termasuk undangan, adalah sebanyak 114 buah, dan kesemuanya terjual habis sebelum hari-H. Panitia bahkan cukup kerepotan untuk menolak beberapa tamu yang akhirnya terpaksa masuk waiting list. Lebih dari dua pertiga tamu pada acara malam adalah warga asing, yang tersebar dari dua belas negara. Tentunya hal ini amat membanggakan, karena terlihat adanya animo yang tinggi dari warga asing untuk mengenal budaya Indonesia.

IMG_4698Acara dimulai pada pukul 18.00 dan dibuka oleh Ibu Retno Marsudi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Wakil Walikota Groningen, Mrs. Jannie Visscher juga turut hadir dan memberikan sambutan, menyampaikan bahwa populasi mahasiswa Indonesia yang cukup besar di Groningen menekankan arti penting hubungan Indonesia dengan Belanda. Tamu-tamu penting yang lain juga hadir, diantaranya adalah para professor di Rijksuniversiteit Groningen dan board dari Hanzehoogeschool Groningen. Para pebisnis dan dan profesional kota Groningen juga tidak ketinggalan untuk hadir.

Acara dibuka oleh solo singer dari Ibu Windari yang menyanyikan lagu Indonesia Jaya. Kemudian disusul beberapa pertunjukan lain seperti Tari Tor-Tor dari Sumatera Utara, Tari Belibis dari Bali, lagu-lagu nasional dan daerah, dan tim angklung yang membawakan lagu legendaris, Bengawan Solo. Pertunjukan angklung mendapatkan tepuk tangan yang amat meriah dari penonton karena ditampilkan dengan sangat baik oleh anak-anak kecil Indonesia yang ada di Groningen. Mereka berumur 5-15 tahun dan merupakan putera-puteri para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Groningen. Di tengah-tengah pertunjukan, disajikan berbagai hidangan khas Indonesia mulai dari wedang uwuh, otak-otak, soto ambengan, nasi liwet, ayam taliwang, sampai dengan es pisang ijo. Sesuai dengan temanya, hidangan juga berasal dari berbagai daerah yang menunjukkan keragaman kuliner nusantara.

IMG_9502Acara selesai pada pukul 21.00 dan para tamu mengungkapkan kepuasan terhadap penyelenggaran Indoenesian Dinner, dan berpesan agar acara semacam ini dipertahankan. Menurut Raditya Iswanda, ketua panitia acara ini, PPIG sangat bangga dapat menyelenggarakan acara ini. Terlebih mengingat sebagian besar pendukung acara ini adalah para mahasiswa Indonesia di Groningen. Tidak lupa ucapan terima kasih diucapkan kepada seluruh pihak yang membantu, diantaranya adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di The Hague dan para warga di Groningen yang selalu mendukung PPIG.

Foto-foto kegiatan dapat dilihat di sini.

(Rully Tri Cahyono)

 

Share this:

1 Trackback / Pingback

  1. Jerman bagian Utara: Hamburg, kota modern dengan arsitektur unik | to improve is to change

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*